{"id":8602,"date":"2024-08-04T14:52:29","date_gmt":"2024-08-04T14:52:29","guid":{"rendered":"https:\/\/cipto.historihush.com\/?page_id=8602"},"modified":"2024-08-06T07:36:26","modified_gmt":"2024-08-06T07:36:26","slug":"organisasi","status":"publish","type":"page","link":"https:\/\/cipto.historihush.com\/index.php\/organisasi\/","title":{"rendered":"ORGANISASI"},"content":{"rendered":"\t\t<div data-elementor-type=\"wp-page\" data-elementor-id=\"8602\" class=\"elementor elementor-8602\" data-elementor-post-type=\"page\">\n\t\t\t\t<div class=\"elementor-element elementor-element-49b632e e-flex e-con-boxed e-con e-parent\" data-id=\"49b632e\" data-element_type=\"container\">\n\t\t\t\t\t<div class=\"e-con-inner\">\n\t\t\t\t<div class=\"elementor-element elementor-element-f673749 elementor-widget elementor-widget-heading\" data-id=\"f673749\" data-element_type=\"widget\" data-widget_type=\"heading.default\">\n\t\t\t\t<div class=\"elementor-widget-container\">\n\t\t\t<style>\/*! elementor - v3.23.0 - 25-07-2024 *\/\n.elementor-heading-title{padding:0;margin:0;line-height:1}.elementor-widget-heading .elementor-heading-title[class*=elementor-size-]>a{color:inherit;font-size:inherit;line-height:inherit}.elementor-widget-heading .elementor-heading-title.elementor-size-small{font-size:15px}.elementor-widget-heading .elementor-heading-title.elementor-size-medium{font-size:19px}.elementor-widget-heading .elementor-heading-title.elementor-size-large{font-size:29px}.elementor-widget-heading .elementor-heading-title.elementor-size-xl{font-size:39px}.elementor-widget-heading .elementor-heading-title.elementor-size-xxl{font-size:59px}<\/style><h2 class=\"elementor-heading-title elementor-size-default\">REKAM JEJAK ORGANISASI<\/h2>\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<\/div>\n\t\t<div class=\"elementor-element elementor-element-1d9a6a4 e-flex e-con-boxed e-con e-parent\" data-id=\"1d9a6a4\" data-element_type=\"container\">\n\t\t\t\t\t<div class=\"e-con-inner\">\n\t\t\t\t<div class=\"elementor-element elementor-element-ce1a6ef elementor-widget elementor-widget-heading\" data-id=\"ce1a6ef\" data-element_type=\"widget\" data-widget_type=\"heading.default\">\n\t\t\t\t<div class=\"elementor-widget-container\">\n\t\t\t<h2 class=\"elementor-heading-title elementor-size-default\">BOEDI OETOMO<\/h2>\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<\/div>\n\t\t<div class=\"elementor-element elementor-element-5a195a9 e-flex e-con-boxed e-con e-parent\" data-id=\"5a195a9\" data-element_type=\"container\">\n\t\t\t\t\t<div class=\"e-con-inner\">\n\t\t\t\t<div class=\"elementor-element elementor-element-0bbd4c4 elementor-widget elementor-widget-text-editor\" data-id=\"0bbd4c4\" data-element_type=\"widget\" data-widget_type=\"text-editor.default\">\n\t\t\t\t<div class=\"elementor-widget-container\">\n\t\t\t<style>\/*! elementor - v3.23.0 - 25-07-2024 *\/\n.elementor-widget-text-editor.elementor-drop-cap-view-stacked .elementor-drop-cap{background-color:#69727d;color:#fff}.elementor-widget-text-editor.elementor-drop-cap-view-framed .elementor-drop-cap{color:#69727d;border:3px solid;background-color:transparent}.elementor-widget-text-editor:not(.elementor-drop-cap-view-default) .elementor-drop-cap{margin-top:8px}.elementor-widget-text-editor:not(.elementor-drop-cap-view-default) .elementor-drop-cap-letter{width:1em;height:1em}.elementor-widget-text-editor .elementor-drop-cap{float:left;text-align:center;line-height:1;font-size:50px}.elementor-widget-text-editor .elementor-drop-cap-letter{display:inline-block}<\/style>\t\t\t\t<p><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter wp-image-8904\" src=\"https:\/\/cipto.historihush.com\/wp-content\/uploads\/2024\/08\/BU.png\" alt=\"\" width=\"500\" height=\"500\" srcset=\"https:\/\/cipto.historihush.com\/wp-content\/uploads\/2024\/08\/BU.png 375w, https:\/\/cipto.historihush.com\/wp-content\/uploads\/2024\/08\/BU-300x300.png 300w, https:\/\/cipto.historihush.com\/wp-content\/uploads\/2024\/08\/BU-150x150.png 150w\" sizes=\"(max-width: 500px) 100vw, 500px\" \/><\/p><p>Dokter Cipto mulai merasakan tekanan dalam lingkungannya, ia merasa harus mulai melawan pemerintah kolonial demi bebas dari himpitan kolonialisme dan feodalisme. Pada tanggal 28 Oktober 1905, ia berhasil menyelesaikan studi dokternya dan menerima ijazah resmi. Ia kemudian dipindah tugaskan ke Glodok, Batavia hingga tahun 1906, ia dipindah tugaskan lagi ke Demak, Jawa Tengah.<\/p><p>Selama masa pengabdiannya sebagai dokter, ia melihat hubungan feodalisme dan kolonialisme ini adalah sumber penderitaan bagi masyarakat pribumi. Hingga pada tahun 1907 ia mulai rajin menulis kritikan-kritikan mengenai kondisi masyarakat yang tidak sehat melalui harian <em>De Locomotief<\/em> (Reksodihardjo, 2012).<\/p><p>Melihat interaksi pemerintah kolonial yang semakin semena-mena terhadap masyarakat pribumi, para kaum cendekiawan mendirikan organisasi Budi Utomo pada tanggal 20 Mei 1908 yang diketuai oleh Soetomo. Melihat hal ini, Dokter Cipto memberikan respon positifnya dengan mengikuti pertemuan-pertemuan Budi Utomo.<\/p><p>Akan tetapi, semboyan yang disampaikan oleh Radjiman pada kongres 4 dan 5 Oktober di Yogyakarta yang menggaungkan nasionalitas bahwa \u201cBangsa Jawa tetap Jawa\u201d mendapat penolakan dari Dokter Cipto. Ia berpendapat bahwa organisasi politik harus bergerak secara demokratis dan terbuka bagi setiap masyarakat bangsa Indonesia. Pada dasarnya, Dokter Cipto tidak menolak kebudayaan Jawa, akan tetapi budaya keraton yang feodalistis (Reksodihardjo, 2012). Dengan adanya perbedaan pandangan tersebut, maka Dokter Cipto memutuskan untuk keluar dari organisasi Budi Utomo.<\/p>\t\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<div class=\"elementor-element elementor-element-350e0c2 elementor-widget elementor-widget-heading\" data-id=\"350e0c2\" data-element_type=\"widget\" data-widget_type=\"heading.default\">\n\t\t\t\t<div class=\"elementor-widget-container\">\n\t\t\t<h2 class=\"elementor-heading-title elementor-size-default\">iNDISCHE PARTIJ<\/h2>\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<\/div>\n\t\t<div class=\"elementor-element elementor-element-2afc080 e-flex e-con-boxed e-con e-parent\" data-id=\"2afc080\" data-element_type=\"container\">\n\t\t\t\t\t<div class=\"e-con-inner\">\n\t\t\t\t<div class=\"elementor-element elementor-element-e5fbd1c elementor-widget elementor-widget-text-editor\" data-id=\"e5fbd1c\" data-element_type=\"widget\" data-widget_type=\"text-editor.default\">\n\t\t\t\t<div class=\"elementor-widget-container\">\n\t\t\t\t\t\t\t<p><img decoding=\"async\" class=\"alignnone wp-image-8905\" src=\"https:\/\/cipto.historihush.com\/wp-content\/uploads\/2024\/08\/IP-300x258.png\" alt=\"\" width=\"500\" height=\"430\" srcset=\"https:\/\/cipto.historihush.com\/wp-content\/uploads\/2024\/08\/IP-300x258.png 300w, https:\/\/cipto.historihush.com\/wp-content\/uploads\/2024\/08\/IP.png 616w\" sizes=\"(max-width: 500px) 100vw, 500px\" \/><\/p><p>Setelah keluar dari Budi Utomo, Dokter Cipto terlibat dalam pemberantasan wabah pes di Malang. Akan tetapi, pertemuannya dengan Douwes Dekker membuahkan hasil yang lain. Douwes Dekker pada masa itu sedang mengadakan propaganda pembentukan partai yang memiliki cita-cita untuk menyatukan seluruh rakyat Indonesia tanpa memandang asal, ras, agama, suku, daerah, dan lain-lain.\u00a0<\/p><p>Pemikiran Douwes Dekker yang selaras dengan pandangan Dokter Cipto, membuat Dokter Cipto ingin bergabung dengan Douwes Dekker untuk menjalankan misinya. Setelah menjalankan masa propaganda selama dua tahun, pada tanggal 25 Desember 1912 bertempatan di Bandung, dilaksanakanlah rapat pembentukan <em>Indische Partij<\/em> (Blumberger &amp; Theodoor, 1939).<\/p><p><em>Indische Partij<\/em> dipelopori oleh E.F.E Douwes Dekker, Dokter Cipto Mangunkusumo, dan Suwardi Suryaningrat atau yang dikenal dengan Tiga Serangkai. Berdasarkan sepak terjangnya, Tiga Serangkai aktif menulis kritikan-kritikan terhadap pemerintah kolonial melalui <em>pers De Express<\/em> dan majalah <em>Het Tijdschrift.<\/em> Mereka menggunakan media-media ini secara terbuka untuk membeberkan tujuan politik dan tekanan Indische Partij kepada pemerintah kolonial (Muljana, 2008).\u00a0<\/p><p>Hingga puncaknya, adalah kritikan mengenai pemerintah kolonial yang pada saat itu akan merayakan hari kemerdekaannya atas Perancis. Dokter Cipto kemudian menerbitkan tulisannya pada tanggal 26 Juli 1913 melalui <em>De Express<\/em> yang berjudul \u201c<em>Perjataan Kekoeasaan ataoe Ketakoetankah<\/em>?\u201d untuk menyindir pemerintah kolonial (Mansoer, 1986). Apabila dilihat dari tulisannya dapat diketahui bahwa Dokter Cipto memiliki emosi yang meledak dan tanpa pikir panjang untuk menantang pemerintah kolonial.<\/p><p>Sebagai bentuk respon atas tulisannya, Suwardi Suryaningrat juga menerbitkan tulisannya yang berjudul \u201c<em>Semoea Untoek Satoe, Satoe Bagi Semua<\/em>\u201d pada 28 Juli 1913. Isi dari tulisan tersebut adalah kritikan yang menyindir beberapa pejabat pemerintah kolonial Belanda yang menyebabkan Dokter Cipto Mangunkusumo, Suwardi Suryaningrat, Abdul Muis, dan Wignyo dibawa oleh polisi Belanda menuju penjara Banceuy pada tanggal 30 Juli 1913 (Mansoer, 1986).\u00a0<\/p><p>Hasil keputusan bersama jaksa pada masa itu adalah pengasingan bagi Dokter Cipto dan Suwardi Suryaningrat, akan tetapi mereka dibebaskan untuk memilih tempat pengasingannya sendiri. Hingga pada tanggal 6 September 1913, Dokter Cipto dan Suwardi Suryaningrat memutuskan untuk diasingkan ke Belanda (Reksodihardjo, 2012).<\/p>\t\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<\/div>\n\t\t<div class=\"elementor-element elementor-element-dc7492b e-flex e-con-boxed e-con e-parent\" data-id=\"dc7492b\" data-element_type=\"container\">\n\t\t\t\t\t<div class=\"e-con-inner\">\n\t\t<div class=\"elementor-element elementor-element-392124b e-con-full e-flex e-con e-child\" data-id=\"392124b\" data-element_type=\"container\">\n\t\t\t\t<div class=\"elementor-element elementor-element-3c42414 elementor-widget elementor-widget-heading\" data-id=\"3c42414\" data-element_type=\"widget\" data-widget_type=\"heading.default\">\n\t\t\t\t<div class=\"elementor-widget-container\">\n\t\t\t<h2 class=\"elementor-heading-title elementor-size-default\">INSULINDE<\/h2>\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<div class=\"elementor-element elementor-element-f4b9618 elementor-widget elementor-widget-text-editor\" data-id=\"f4b9618\" data-element_type=\"widget\" data-widget_type=\"text-editor.default\">\n\t\t\t\t<div class=\"elementor-widget-container\">\n\t\t\t\t\t\t\t<p>Sepulangnya Dokter Cipto ke Jawa, beliau aktif dan bergabung dalam organisasi <em>Insulinde<\/em>. Organisasi ini adalah pengganti <em>Indische Partij<\/em>, dan dalam organisasi ini Dokter Cipto berperan sebagai anggota pengurus yang melakukan propaganda. Hingga pada tahun 1919 <em>Insulinde<\/em> berganti nama sebagai <em>Nationaal-Indische Partij <\/em>(Blumberger &amp; Theodoor, 1939). <br \/><br \/><\/p><p>Diselang waktu itu, pada tahun 1918 Dokter Cipto tergabung dalam badan pemerintah kolonial <em>Volksraad<\/em> atau Dewan Rakyat. Dokter Cipto melihat <em>Volksraad<\/em> sebagai salah satu bentuk lembaga untuk mempertahankan kekuasaan pemerintah kolonial dengan kedok demokrasi, karena pada praktiknya forum diskusi tersebut tidak menghiraukan suara masyarakat Indonesia. Oleh karena itu, Dokter Cipto senantiasa menerbitkan tulisan-tulisannya yang mengkritisi sistem politik pemerintah kolonial.<\/p><p>Melihat hal tersebut, pemerintah kolonial menilai bahwa Dokter Cipto merupakan tokoh yang berbahaya bagi mereka, sehingga pada tanggal 15 Oktober 1920 Dokter Cipto mulai diasingkan ke kota-kota terpencil di Jawa, Madura, Aceh, hingga berakhir di kota Bandung dan dibatasi pergerakannya.<\/p>\t\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<\/div>\n\t\t","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>REKAM JEJAK ORGANISASI BOEDI OETOMO Dokter Cipto mulai merasakan tekanan dalam lingkungannya, ia merasa harus mulai melawan pemerintah kolonial demi [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"parent":0,"menu_order":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","template":"elementor_header_footer","meta":{"_acf_changed":false,"_EventAllDay":false,"_EventTimezone":"","_EventStartDate":"","_EventEndDate":"","_EventStartDateUTC":"","_EventEndDateUTC":"","_EventShowMap":false,"_EventShowMapLink":false,"_EventURL":"","_EventCost":"","_EventCostDescription":"","_EventCurrencySymbol":"","_EventCurrencyCode":"","_EventCurrencyPosition":"","_EventDateTimeSeparator":"","_EventTimeRangeSeparator":"","_EventOrganizerID":[],"_EventVenueID":[],"_OrganizerEmail":"","_OrganizerPhone":"","_OrganizerWebsite":"","_VenueAddress":"","_VenueCity":"","_VenueCountry":"","_VenueProvince":"","_VenueState":"","_VenueZip":"","_VenuePhone":"","_VenueURL":"","_VenueStateProvince":"","_VenueLat":"","_VenueLng":"","_VenueShowMap":false,"_VenueShowMapLink":false,"footnotes":""},"class_list":["post-8602","page","type-page","status-publish","hentry"],"acf":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/cipto.historihush.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/pages\/8602","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/cipto.historihush.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/pages"}],"about":[{"href":"https:\/\/cipto.historihush.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/page"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/cipto.historihush.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/cipto.historihush.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=8602"}],"version-history":[{"count":16,"href":"https:\/\/cipto.historihush.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/pages\/8602\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":8946,"href":"https:\/\/cipto.historihush.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/pages\/8602\/revisions\/8946"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/cipto.historihush.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=8602"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}